Aku Mau Melahirkan Lagi

23.57 Windi Teguh 37 Comments

sebelumnya, baca ini

28 Mei 2013

Pagi-pagi setelah sholat subuh, ayahmu pun mengajakku jalan pagi keliling komplek rumah kita. Kali ini rutenya lebih panjang dan lebih lama, sampai dua putaran kami lalui dalam rangka masih berharap kau tiba-tiba memberi sinyal untuk launching. Namun sampai jam 7 pagi dirimu masih anteng tak bergeming.

Maka setelah meminta ijin ke kantor, jam Sembilan pagi itu kami pun capcus ke rumah sakit setelah terlebih dahulu menghubungi dokter kandunganku.

Ini  benar-benar di luar bayanganku dan di luar rencana kami. Kemarin-kemarin aku membayangkan akan ada suasana panik saat aku mengalami kontraksi, mungkin di malam hari saat kami sudah terlelap, atau di pagi subuh saat kami belum bangun. Yang paling ekstrim kubayangkan saat ayahmu lagi berada di kantor atau di luar kota, mungkin aku akan heboh sendiri atau malah menelepon taksi. Ayahmu akan buru-buru pulang ke rumah, dengan aku yang mungkin sudah tak berdaya. Tas yang berisi perlengkapanmu yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari akan segera diangkat ayahmu ke mobil. Dan dengan gugup kami akan meluncur ke rumah sakit. Begitulah skenario kelahiranmu dalam benakku.

Namun,pagi ini semua berjalan tenang. Setelah jalan pagi, aku mandi dan segera sarapan. Jaga-jaga jika memang harus melahirkan , aku punya energy untuk mengeluarkanmu. Bahkan kusempatkan untuk minum kopi yang dicampur dengan kuning telur ayam kampung, katanya sih bisa menambah stamina. Yang agak nervous ternyata ayahmu, kusuruh sarapan pun ia sudah tak mau lagi. Berulangkali dia mengatakan, aku tak cukup tidur, sebaiknya besok saja ke rumah sakitnya. Aku ngga mau, takut mengambil resiko sekecil apapun. Perjalananmu ke rumah sakit pagi ini berjalan lancar, tenang, dan tanpa insiden apapun.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera diobservasi di ruang bersalin. Syukurlah ruang bersalinnya sangat nyaman. Satu ruangan hanya untukku seorang. Ruangannya bagus, bersih dan dilengkapi kamar mandi sendiri. Seperti kamar pribadi untuk kita, jadi aku merasa rileks. Tak lama para suster datang, dan segera memeriksa pembukaanku. Ternyata memang belum ada pembukaan sama sekali. Pyuuuh, benar-benar deh kamu sayang, ngga mau keluar juga dari perut bunda. Trus aku dikasih obat pencahar, untuk membuang semua kotoran di perutku biar waktu lahiran ntar udah bersih. Ooow selama ini aku selalu ngeri membayangkan kalau pas ngeden bersamaan dengan BAB, ternyata itu jarang terjadi yah.

Setelah saluran cernaku bersih, CGT pun mereka pasangkan di perut untuk memantau detak jantungmu, Alhamdulillah semuanya normal. Tak lama dokter kandunganku pun datang, lagi-lagi memeriksa pembukaanku. Duh aku baru tahu ternyata melihat pembukaan itu, tangan si dokter dan si suster masuk ke vagina. Ampuun deh sakitnya. Ayahmu yang berada di ruangan bersamaku, namun dipisahkan oleh tirai sempat khawatir mendengar aku mengerang-ngerang kesakitan. Baru periksa pembukaan dan aku sudah kesakitan?. Hmmm ayahmu mulai meragukan kesanggupanku.

Alhamdulilah sudah pembukaan dua. Aku mulai optimis.

Dokter menanyakan padaku, apa aku masih mau lahiran normal?. Tentu saja, kan aku sudah bertekad dari awal. Setelah mendengar jawabanku, si dokter pun mengintruksikan ini itu kepada para suster. Memastikan bahwa aku ngga akan kesakitan, dan berpesan untuk bersabar padaku. Okee deh memang cuma itu yang bisa kulakukan sekarang, bersabar.

Selang infus pun dipasangkan ke tanganku. Kulihat suster tersebut menyuntikkan cairan ke dalam botol infuse yang katanya adalah cairan untuk induksi atau sinto yang berfungsi untuk merangsang terjadinya kontraksi. Aku sudah pasrah saja, berharap segera terjadi pembukaan demi pembukaan.

Rasanya waktu berjalan lambat sekali. Aku mulai masuk ke ruang bersalin ini pukul 10 pagi hari dengan pembukaan dua. Sampai pukul tiga sore tidak ada perubahan yang berarti, pembukaanku masih juga dua. Mulas-mulas mulai kurasakan. Saat serangan mulas datang, aku hanya memejamkan mata sambil membaca ayat-ayat pendek yang kuhapal. Walau sakit, namun aku masih bisa menahannya. Rasanya seperti mau mens, agak panas dingin tapi masih bisa ditolerir. Namun gara-gara mulas itu aku sama sekali ngga selera makan. Makan siang yang disajikan rumah sakit pun tak kusentuh sama sekali. Hilang sudah keinginanku untuk melakukan apapun. Aku hanya berbaring sembari mendengar detak jantungmu melalui CGT di sampingku. Ayahmu yang baik hati itu selalu berada di sampingku. Ia hanya meninggalkanku untuk sholat dan makan. Ya baru kusadari sejak pagi ia belum makan apapun juga.

Pukul lima sore, masih pembukaan dua, aku mulai putus asa.Tujuh jam sudah, dan tak ada perkembangan yang berarti.

Tepat setengah tujuh aku merasakan ada yang pecah di bawah sana, ternyata air ketuban, segera kupanggil suster. Setelah diperiksa, Alhamdulillah sudah pembukaan 4, semangatku muncul kembali.Bahkan aku masih sempat BBM-an ke sohibku, live report dari RS.

Tak lama ibuku yang juga omamu datang. Aku memang sengaja tak mengabarkan dari pagi, takut ibuku panik, baru sore hari aku memberitahukan keberadaanku di rumah sakit. Sambil membawa makanan kesukaanku ibuku pun membujukku makan. Tapi entahlah rasanya tak berselera sama sekali. Satu-satunya yang bisa masuk ke perutku hanya susu dan bubur yang disediakan rumah sakit.

Pembukaan demi pembukaan pun berlangsung, yang diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaanku ke suter, “ Masih lamakah sus?”. “ Udah bukaan berapa sus?”, “ Kira-kira jam berapa ini lahirnya sus?”. Yang selalu dijawab dengan kata “ Sabar buuu, dedenya lagi cari jalan “.Hueeh, tahu gitu bunda kasih aja kamu peta ya sayang biar cepet ketemu jalannya.
Kira-kira jam Sembilan malam, suster datang lagi dan kembali menjulurkan tangannya ke bawah sana. Sudah pembukaan tujuh, Alhamdulillah.

Setelah itu wow, gelombang rasa sakit datang bertubi-tubi. Seperti ada tsunami di perutku. Kemarin-kemarin aku sering dengar dari orang

“ Sakitnya seperti senggugut mau mens tapi dikali 1000” kata temanku. 

Ada juga yang bilang “ Seperti kebelet BAB tapi sakiiiit banget”, itu kata adikku.

Tapi menurutku hanya Allah dan para wanita yang telah melahirkan lah yang tahu rasanya. Karena benar-benar tidak bisa dideskripsikan. Lemas seluruh persendianku menahankannya. Setiap rasa sakit datang, ayahmu mengenggam tanganku erat-erat, ya dia duduk di sampingku, tak meninggalkanku sedetik pun. Bersama-sama kami lafalkan ayat-ayat pendek. Baru disitulah kusadari ternyata hapalanku sangat sedikit, tak sebanding jumlah surat pendek yang kuhafal dengan jumlah sakit yang datang.

Melihatku yang tidak bersuara saat kesakitan, tante dan mimimu berkali-kali mengatakan 
“ Undi, kalau kesakitan teriak aja, jangan ditahan”. 
Entahlah sayang, saat itu bunda sama sekali tak berhasrat untuk teriak seperti seorang ibu di kamar sebelah yang teriakan dan tangisannya membuatku merinding. Bagiku semakin aku teriak, rasa sakit pasti akan semakin terasa. Untunglah sebulan belakangan aku sempat ikut senam hamil. Teknik pernafasan yang diajarkan pun aku praktekkan, ambil nafas, tahan,hembuskan. Berkali-kali kulakukan yang memang benar sedikit mengurangi rasa sakit yang semakin menggila. Aku juga ingat kata instruktur senamnya, saat sakit datang cobalah untuk tersenyum dan mensugesti diri bahwa itu tidak sakit. Terdengar bullshit yah, tapi itu pun aku coba. Sambil meringis dan berusaha tersenyum, kubayangkan mulut rahimku membuka, dan kuucapkan berkali-kali “ Ngga sakit… ngga sakit… ngga sakit”. Kalau membayangkan sekarang pasti lucu sekali kondisiku saat itu.

Setelah bukaan delapan aku mulai hampir pingsan. Kata ayahmu wajahku sudah seputih kapas. Nak, kalau kau tahu bagaimana sakitnya. Saat itu sempat-sempatnya aku berfikir, hanya perempuan gila yang mau melahirkan berkali-kali. Ayahmu terus memelukku, digenggamnya tanganku erat-erat. Bahkan ibuku pun tak sanggup lagi melihatku yang kesakitan parah. Berulangkali ia bertanya ke susternya, 

“ Mana dokternya, anak saya sudah kesakitan itu”

yang tentu saja dijawab suster dengan senyuman “ Sabar ibu, dokter akan datang setelah pembukaan sempurna, saat ini kita cuma bisa menunggu”. 

Sampai frustasi sepertinya omamu, akhirnya ia keluar ruangan dan menunggu kelahiranmu di luar saja.

Berkali-kali aku memanggil suster saat sakit mendera . “ Suster, udah mau keluar” kataku memohon. Seperti ada yang mendorong-dorong di bawah sana. Namun ternyata belum waktunya. Dan nak, kau tahu saat suster memasukkan tangannya lagi ke mulut rahimku, disitulah diketahui kepalamu sudah benjol nak, akibat aku yang mendorong atau istilahnya mengejan sebelum waktunya sehingga kepalamu terbentur mulut rahim yang belum terbuka. Tak ayal suster pun memperingatiku “ Bu, jangan ngeden dulu, kasihan ntar bayinya kepalanya benjol, lagian kalau mulut rahimnya bengkak ntar ibu ga bisa lahir normal lo, harus operasi “. Hwaa tentu saja mendengarnya aku takut sekali. Aku takut kepalamu benjol karena kesalahanku dan aku juga takut kalau harus dioperasi. Rasanya percuma dong aku menunggu selama hampir 12 jam ini, kalau akhirnya harus operasi juga. Maka saat desakan untuk mengejan semakin kuat , namun karena belum pembukaan sempurna , kutahan sebisa mungkin, sampai keringat dingin keluar.

Jujur saja, aku hampir menyerah nak. Sudah tidak kuat lagi menahan sakitnya. Dalam bayanganku kalaupun harus operasi aku sudah ikhlas yang penting kau segera keluar dengan selamat.Berbagai cara sudah kulakukan untuk mengurangi sakitnya. Mulai dari teknik pernafasan, hipnobirthing dengan mensugesti diri sendiri, baca ayat, diam,semuanya lah. Tapi sakitnya malah makin parah. Pada tahap ini aku sudah hampir menangis. Ayahmu pun sudah tak tahu lagi mau melakukan apa untuk menolongku. Yang dilakukannya mengusap-ngusap kepalaku dan menciumiku. Itu pun tak mengurangi penderitaanku. Kedengaran lebay kan sayang bundamu ini. Tapi itulah kenyataannya nak.

Tepat jam 10 akhirnya bukaanku sempurna. Yang artinya hanya satu jam saja jarak antara bukaan tujuh ke sepuluh, namun rasanya seperti berabad-abad bagiku. Tak lama dokter pun datang, persiapan mengeluarkanmu pun dilakukan. Kedua kakiku dinaikkan ke semacam alat yang aku tak tahu namanya, pokoknya yang membuat dokter akan lebih mudah melihatmu keluar. Dan si dokter ya masih sempat-sempatnya becanda samaku,padahal aku sudah menggeliat-geliat kayak ulet. Kata dokter, nanti saat ada dorongan buat mengejan, aku harus mendorong sekuat tenaga.

Dan yang ditunggu pun tiba, rasanya ada keinginan luar biasa untuk mengejan, seperti kebelet BAB dan pengen pup begitulah rasanya. Dengan sekuat tenaga kudorong dirimu untuk keluar. AAAArgh, rasanya enaaak sekali saat mengejan itu, hal yang dari tadi harus kutahan-tahan untuk menghindari kepalamu dari cedera. Semua orang di ruangan itu menyemangatiku, tiga orang suster, satu dokter dan tentu saja ayahmu. “ Ayo, ayoo dorong terus buuu sudah keliatan kepalanya”, seperti yel-yel mereka mensupportku. Huuuft apa daya, nafasku tak cukup panjang, di tengah jalan aku berhenti. Begitu terus selama empat kali. Rasanya sudah seluruh tenaga kukerahkan tapi kau belum juga keluar. Disini aku mulai teriak “ AAAAArgh setiap dorongan untuk mengejan datang. Suster pun memperingatiku untuk tidak berteriak karena nanti tenggorokanku bisa sakit katanya. Dan nak, kau tahu, aku yang biasanya suka ngga mendengarkan nasehat orang, kali ini begitu patuh. Apapun yang dikatakan dan disuruh suster kuturuti, semata demi yang terbaik untukmu. Kutahan suaraku agar tidak teriak lagi.

“ Windi, jangan mengejan di tenggorokan, kamu harus mendorong kakimu saat mengejan, dan lihat ke arah perut “ begitu si dokter menasehatiku.

Segera kuturuti perintahnya. Begitu disuruh mengejan lagi, sekuat tenaga kudorong kakiku dan mengarahkan pandanganku ke arah perut.

“ Ayo dek, sebentar lagi dek, tahan “ Ayahmu pun tak mau kalah menyemangatiku.

Setelah kurasakan nafasku hampir habis, namun tidak mau untuk mengulang proses dari awal lagi, dengan sungguh-sungguh kukerahkan segenap dayaku , ini yang terakhir pikirku. Disitulah rasanya hidup dan mati begitu tipis, dan kurasa mungkin banyak urat sarafku yang putus akibat tenaga yang kukerahkan untuk mendorongmu.

Sekonyong-konyong seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuhku, kepalamu nak, dan tiba-tiba terdengar tangismu memecah,memenuhi ruangan. Rasanya legaaaa luar biasa, nikmat tiada tara. Plong dan aduuuh nak aku tak tahu mendeskripsikannya. Tapi benar-benar enaaak dan nikmaaat. Mungkin inilah anugerah yang diberikan Allah kepada para wanita yang tak mungkin dapat dirasakan kaum pria. Kenikmatan pasca melahirkan, subhanallahu, benar-benar luar biasa. Bukan dalam arti kiasan tapi nikmat dalam arti yang sebenarnya. Aku belum pernah merasakan yang lebih dari perasaan ini. 



Detik itu juga aku berkata dalam hati “ Aku mau melahirkan lagi “ 






You Might Also Like

37 komentar:

  1. Subhanalloh, Allahu Akbar...Mba Windi...aku aku sepertimu, tapi apalah daya, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan. Suamiku mengerti bagaimana aku dan tubuhku, langsung menandatangani tindakan. Hm....I don't know why...i'm crying... Aku pingin hamil lagi anak ke dua, dan aku ingin normal, normal...tapi dari dokter ataupun kolega. Pinggulku kecil, anak pertama operasi, kecil kemungkinan untuk normal. Baca ceritamu...uuuuh,

    Selamat Ya telah menjadi ibu.

    Salam
    astin

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang penting emak sama anaknya sehat mak, ga peduli normal atau operasi, sama2 ada tantangannya kok ;). makasi ya maak

      Hapus
  2. hehe, sy juga paling gak suka tuh pas periksa dalem. Gak enaaaakkk :D

    BalasHapus
  3. subhanallah.....

    alhamdulillah mba windi kuat ya, lama amat jarak antar pembukaannya. Saya lahiran pertama dari subuh jam 2 lahiran, itupun dah pake mau pingsan juga.

    meski dah 2 kali lahiran, mo lahiran lagi sekarang juga tetep deg-degan n rada parno. masing-masing anak beda-beda bawaan hamil n lahirannya.

    apapun....selamat menjadi ibu dan memikul amanah yang besar luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi mba .iya mba sarah, lama banget, tapi kata dokter itu masih normal , biasanya ada yg sampe 18 jam.

      Hahaha udah dua kali tetep deg2an juga yah. semoga lancar jaya mba seperti namamu

      Hapus
  4. jujur sampai meneteskan air mata nih bun,,, ku juga udah bulan ke 7 nih kehamilan... dan dibayangan aku cuma bagaimana proses yg akan terjadi nanti. sampai sat ini aku berharap bisa melahirkan normal,,, sampe parno sendiri bawaannya ngak mau nanya gimana rasa ngelahirin normal,hehe.... doakan ya bun semoga aku bisa menyusul melahirkan normal amin :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan parno bun, kalo perempuan lain bisa, berarti kita juga bisa. Aku malah kemarin nonton video melahirkan dulu di youtube biar siap mental . Semoga lahirannya lancar ya bund

      Hapus
  5. Ooo.. Udah lahir toh?? Komen tadi ga laku lagi dong? Slamat ya mbak.. Berhasil normal. Aku harus operasi. Gpp, yang penting anaknya selamat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa udah lahiran, makasi mba novi. Mau operasi atau normal sama aja mba, yang penting anaknya sehat ibunya juga sehat

      Hapus
  6. aduh kq mules ya mak,, baca ini.. :)) *maklum masih single*

    baca ini jdi inget, aku pernah di rahim Mama, yg masih keciiiill sekali, dan membuat Mama repot..
    huwaaaa.. pengen jdi Ibu :')

    salam kenal ya dedek imut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan mules dulu, ntar aja mulesnya pas udah waktunya xixixix. iyaaa setelah jadi ibu, baru tahu gimana sayangnya orangtua sama kita

      Hapus
  7. Alhamdulillah akhirnya ada kabarnya juga. Baru kepikiran mau nanya udah lahiran atau belum :) Selamat ya, dear. Semoga sehat terus, ibu dan bayi...

    Kalau aku sih setelah melahirkan yg kelima kalinya kemarin, saat ini lagi merasakan gak mau melahirkan lagi. Entah nanti....

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah udah mak sary. Hahaha kalo udah lima stop dulu mak, biar bisa bulan madu lagi sama bapaknya ;D

      Hapus
  8. Akhirnya resmi menjadi ibu ya, Mbak Windi. :) Dan untuk si dede bayi, welcome to the world ya, sayang! Semoga jadi anak kebanggaan ayah ibu kelak. Dan utk Mbak Windi dan suami, semoga menjadi orang tua terbaik bagi ananda yaaa. :)

    Mengandung dan melahirkan [baik normal atau operasi], adalah anugerah terindah yang hanya diperuntukkan bagi wanita. Bersyukurlah para wanita yang dipercayakan mengemban amanah dan menerima anugerah ini. :)

    Saleum,
    Alaika

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi doanya mak. iyaa mak mau normal mau operasi sama-sama anugerah dariNya. luar biasa rasanya

      Hapus
  9. mak windi aku jadi panas dingin bacanya, maklum masih single, insyaallah moga nnatinya saya bisa menyusul mak windi, mabrok 'ala maulud..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha jangan panas dingin ah mbak mutia. ayo cepetan cari calon bapaknya, biar segera merasakan sensasinya :D

      Hapus
  10. yeeeey..... alhamdulillah normal ya, wind... luar biasa rasanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Alhamdulillah banget mba. benar2 sesuatu

      Hapus
  11. alhamdulillah normal ya, mba win. moga selalu sehatttt :D

    BalasHapus
  12. hehehehe ceritanya mirip banget sama aku waktu lahiran anak pertama..seru yah..lahiran normal itu memang nikmat banget!!

    BalasHapus
  13. Mantaaaaaaaaaap rasanya, kalo dirangsang emang luar biasa bedanya. Faris anak pertamaku juga, rasanya tak bisa dideskripsikan xixixi,selamat ya Windi.

    BalasHapus
  14. sama mbak, prosesku waktu anak pertama juga lama 12 jam an...
    selamat ya mba...:)

    BalasHapus
  15. keren mbak wind..
    klo aku agak merinding setiap membayangkan 2x lahiran.. smuanya normal dan dlm kategori mudah (ga pake oprasi, induksi ato alat2 bantu medis lain.. norma mall).. tp gak gt berani bertekat 'aku mau melahirkan lagi' :D

    tp klo lihat anak bayi lucuuu n ingat bentar lagi si bungsu sekolah rasa pengen itu kerap datang makin sering.. kepengen punya bayi lagi heuheu, smoga bisa dpt anugrah tekat luar biasa macam mbak windi ini nantinya.. amiiin :)

    BalasHapus
  16. Iya mba, saya juga induksi. Alhamdulillah ga lama cuma sekitar enam jam dari induksi, eh brojol. Ngelahirin itu nagih ya..saya juga lagi usaha buat nambah nih. Doain yah.. Jadi kapan maau nambah dede? ;)

    BalasHapus
  17. Senangnya yang bisa lahiran normal :) hihi

    BalasHapus
  18. baca ceritanya tiba2 jadi berasa lagi ngalamin hal yang sama (smoga suatu hari nanti ya Allah..) selamat ya baby nya cakep banget....

    :*

    BalasHapus
  19. subhanallah :") nangis bacanya :") ;
    berikutnya giliran aku...doain aku ya mak :")

    BalasHapus
  20. Aku juga nangis (terharu) bacanya :'(
    semoga aku bisa nyusul secepatnya ya mba.. #pengenhamil
    :)

    Selamat mba Wind, u're a great mommy, baby nya lucuuuu.... :*

    BalasHapus
  21. agaaan.....subhanallah keren bgt....
    ane sesenggukan bacanya.....
    yes... miracle one

    BalasHapus
  22. iya ini habis melahirkan makin gendut, mau coba obat takut alhasil pakek cara alami deh hehe

    BalasHapus
  23. untuk wanita pasca melahirkan atau menyusui yang ingin mengembalikan kekencangan payudara dalam waktu 1 bulan, tanpa suntik dan tanpa menguras kantong anda, maka 2 obat inilah yang mungkin anda perlukan http://www.mitrakosmetik.co.id/obat-pembesar-payudara-terbukti-aman-tanpa-efek-samping.html?s_kode=mlg6666

    BalasHapus