Menjelang Kelahiranmu

23.43 Windi Teguh 3 Comments


Satu hari sebelum engkau menghirup udara di dunia ini

Hari ini tepat 40 minggu kau bersemayam di rahim bunda. Menurut perkiraan dokter, seharusnya hari ini sosok mungilmu sudah ada dalam gendonganku. Namun entah kenapa, sepertinya kau begitu betah berada di dalam sana. Mungkin alam rahim begitu nyaman untukmu, sehingga tanda-tanda kontraksi pun tak jua datang.

Tentu saja aku uring-uringan. Rasanya seperti menunggu kekasih yang tak kunjung datang. Bisa kau bayangkan, seperti menunggu seseorang yang begitu kau rindu keluar dari pintu kedatangan sebuah bandara. Berkali-kali kau akan melongok ke sana. Tak sedetik pun kau palingkan wajahmu dari arahnya. Dan saat yang kau nanti tak menampakkan batang hidungnya, maka kecemasan menghinggapimu. Ada apakah?. Apa semua baik-baik saja?, apa ada masalah?. Begitu pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepalaku.

Tak urung ayahmu pun gelisah. Keluarga besar pun sudah berkumpul di rumah kita. Omamu,opa, bahkan adikku yang juga tentemu dari Bandung sudah sejak dua hari yang lalu mendarat di Medan untuk menyaksikan kehadiranmu di tengah-tengah kami. Semua tak sabar untuk menyambutmu. Hal yang sangat lumrah mengingat telah lima tahun kami menantimu.

Akhirnya omamu memutuskan pulang dulu ke rumah. Rumah kita kembali sepi.

Tak menunggu lama, esok harinya aku dan ayahmu langsung mengunjungi dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilanku. Syukurlah saat di USG ternyata kau baik-baik saja, bahkan sedang tersenyum-senyum menatap ke arah kami. Seolah mengatakan “ Hei, tunggu aku yah bunda, sabaar”. Mendengar dokter mengatakan bahwa everything is gonna be alright, aku pun lega. Namun dokter menyarankan bila sampai besok pagi tidak ada tanda-tanda kau akan keluar, aku harus segera ke rumah sakit agar dilakukan tindakan untuk merangsang dirimu mencari jalan lahir.

Aduuh, mendengarnya aku langsung tidak tenang. Dalam bayanganku , apa yang kutakutkan akan terjadi, seperti cerita-cerita temanku, ujung-ujungnya dokter pasti melakukan tindakan operasi jika kau tak kunjung muncul. Padahal dari awal kehamilan aku sudah bertekad untuk melakukan persalinan secara normal. Bukan karena sok kuat atau apa, tapi setelah penantian panjang ini, aku ingin benar-benar merasakan kehadiranmu secara alami, merasakan dirimu keluar dari diriku dalam keadaan sadar bukan dalam pengaruh bius.

Maka sepulang dari dokter, jam delapan malam, aku pun heboh mengambil kain pel di rumah. Seluruh lantai rumah aku pel sambil jongkok (ngepel ala mbok2). Karena menurut orang-orang, cara tersebut bisa mempercepat kontraksi. Kata abangku udah kasep, harusnya dari sebulan yang lalu aku sudah melakukannya. Yah benar juga, aku memang termasuk ibu hamil yang sangat pemalas. Udah sering dinasehatin orang supaya banyak jalan, banyak ngepel menjelang lahiran, tapi aku tak melakukannya. Jalan pagi paling hanya kulakukan dua sampai tiga kali saja. Di usia Sembilan bulan , kakiku bengkak dan sakit buat dibawa jalan, makanya aku malas sekali melakukan jalan pagi. Ditambah ayahmu yang susah sekali dibangunkan pagi-pagi, lengkaplah kami menjadi pasangan yang pemalas.

Awalnya niat banget, jalan pagi di lapangan Merdeka Medan, satu keliling lapangan kujalani bersama ayahmu. Yang kedua, jalan keliling komplek perumahan kita, tapi begitu ketemu tukang roti, jalan pagi pun berhenti ,diteruskan dengan menyantap roti bantal yang entah mengapa begitu kugandrungi selama mengandungmu. Dan kali ketiga, ya di pagi hari kelahiranmu, setelah malamnya aku mengunjungi dokter, pagi-pagi ayahmu pun mengajakku jalan keliling komplek lagi. Kali ini agak jauhan dan agak lamaan. Berharap sekali tiba-tiba aku merasakan sakit.  Namun, tampaknya semua usaha dadakan tersebut tak bisa membujukmu untuk keluar.

Malam itu walau lelah luar biasa sehabis mengepel seantereo rumah, mataku tak kunjung mau dipejamkan. Ketakutan menguasaiku. Sungguh aku tidak tenang. Berulangkali ayahmu memintaku untuk segera tidur, katanya kalau besok aku bersalin biar punya tenaga. Duh bukannya malah ngantuk, aku malah tambah senewen mendengar kata bersalin.

Untuk menenangkan diri, kubuka internet. Kutelusuri semua informasi yang ada tentang proses kelahiran yang lewat waktu. Kebanyakan mengatakan itu adalah hal yang wajar apalagi untuk kehamilan pertama. Informasi mengenai induksi pun kubaca dengan rakus. Hmm syukurlah ternyata dari beberapa artikel tidak ada yang mengatakan bahwa tindakan itu berbahaya bagi janin dan ibu.

Awalnya aku dan ayahmu berpikir untuk menunggu kontraksi saja beberapa hari lagi, karena katanya mbah google, usia kehamilan itu masih normal sampai usia 41 minggu. Namun, setelah ayahmu menelepon teman yang ayahnya dokter kandungan juga dan menyarankan agar segera saja dilahirkan, kami pun jadi galau lagi. Bagiku apapun yang terpenting adalah keselamatanmu. Walaupun di internet bilang usia kehamilanku masih wajar, namun karena dokter bilang demikian, aku lebih memilih saran dokter yang menurutku pasti lebih tahu kondisiku dan dirimu di dalam sana.

Hingga subuh, ternyata aku tetap tidak bisa tidur. Sayang….. bundamu yang gahar ini ternyata penakut.


You Might Also Like

3 komentar:

  1. Ikut saran dokter aja mbak. Takut kenapa2. Saya aja lahiran ketuban hijau, katanya lewat waktu. PAdahal perhitungan pas 40 minggu.

    BalasHapus
  2. Wah sama 40 minggu juga. Saya takut banget krn perut saya gantung terus, ga turun2. Mana pengalaman kaka ipar yg more than 40w anaknya hrs diinkubasi sampe seminggu gara2 ketuban ijo. Jdnya panik dan bertekad harus mengeluarkannya. Alhamdulillaah ga apa2. Skrg dia udah 3thn.
    Selamat ya mba.. Sehat selalu dede, bunda, ayahnya.. :)

    BalasHapus
  3. Aku masuk 38 belum ada tanda2 juga malah kudu diet :"(

    BalasHapus