Malam Pertama Bersamamu

07.11 Windi Teguh 5 Comments

Oeee Oeee, lantang suaramu memecah malam. Tepat pukul 22.39 kau hirup udara dunia ini. Ayahmu seperti tak sabar untuk segera mengiqomatkanmu, buru-buru suster mencegahnya, karena tali pusatmu harus dipotong dulu. Xixixi, ayahmu memang sudah niat dari kemarin-kemarin, begitu kau lahir ia ingin suara pertama yang kau dengar adalah suaranya mengumandangkan kalam ilahi. Tampaknya niatnya itu tidak kesampaian, karena suara pertama yang kau dengar adalah suara suster dan suara dokter.

Kulihat suster meletakkanmu di sebuah timbangan bayi. Setelah ditimbang dan dilap seperlunya ayahmu pun diberi izin untuk mengiqomatkanmu.

Aku?. Aku lagi sibuk dengan pikiranku. Rasanya seperti mimpi. Beberapa waktu yang lalu aku kesakitan bukan main, dan detik ini tiba-tiba kau telah lahir, perutku kosong, dan rasa sakit hilang tak berbekas. Asli sayang, benar-benar kayak mimpi.



Dokter masih sibuk menjahit jalan lahirmu, sebelumnya aku telah dibius local jadi kali ini aku tak merasakan apapun. Syukurlah, kalau harus merasakan sakit lagi rasanya aku sudah tidak sanggup.

Tak sabar rasanya ingin segera memelukmu. Suster pun membawamu padaku. Sebelum persalinan aku memang sudah berpesan pada mereka bahwa aku ingin melakukan IMD ( Inisisasi Menyusu DIni). Tujuannya untuk mengurangi stress padamu pasca keluar dari alam rahim dan berkenalan dengan alam dunia. Jadi kau langsung diletakkan di atas perutku, skin to skin, untuk membuatmu nyaman karena kau akan mendengar detak jantungku, sama seperti yang biasa kau dengar saat masih di dalam kandungan.. Duuh sayang, kau begitu mungil dan terlihat tak berdaya, menggeliat-liat di atas tubuhku. Amazing membayangkan lima menit yang lalu kau masih di dalam diriku, kini kau sudah ada di hadapanku.

Tangan mungilmu menepuk-nepuk lembut payudaraku, katanya ini adalah reflekmu yang berguna untuk merangsang Air Susuku keluar. Kaki mungilmu menendang-nendang perutku, katanya lagi ini akan membuat rahimku berkontraksi dan mengeluarkan kotoran-kotoran dan darah nifas.

Selama satu jam lebih kita bercengkrama secara intim, diharapkan kau akan secara naluriah menemukan putingku dan menghisapnya. Namun sampai suster mengambilmu untuk dimandikan, kau belum sampai ke putingku. Tak mengapa, tak ada kata berhasil atau gagal dalam IMD , namun yang terpenting dilakukan atau tidak. Begitu yang kudengar dari seminar tentang IMD beberapa waktu lalu.

Setelah kau dimandikan dan aku dibersihkan, suster pun mengatar kita ke kamar. Karena aku berniat untuk memberimu ASI eksklusif ,maka kau tak dibawa ke ruang bayi tapi tidur bersamaku. Malam pertama bersamamu. Jujur saja, aku gugup, takut kalau kau menangis apa yang harus kulakukan. Benar saja, begitu sampai di kamar kau mulai memperdengarkan suaramu yang subhanallah, keras sekali sayang. Untung ada omamu, ia segera menggendongmu dan menenanangkanmu. Tampaknya kau haus. Dan inilah saatnya, pertama kali aku menyusuimu.

Wew ternyata tidak gampang. Air susuku belum ada, kau makin keras menangis, duuuh bingung aku. Ayahmu sudah pulas terlelap, sepertinya ia lelah luar biasa. Mungkin karena capek akhirnya kau tertidur juga. Sesekali kau bangun sambil merengek-rengek. Iseng kupindahkan kau dari box bayi ke atas tempat tidurku, tepat di sampingku. Dan hey kau langsung diam, tenang dan terlelap. Mungkin kau mendengar detak jantungku lagi sehingga tahu bahwa kau berada di tempat yang aman. Luar biasa feelingmu sayang.


Malam pertama sukses kita lewati.

You Might Also Like

5 komentar:

  1. Subhanallah walhamdulillah...
    Malam pertama yang sangat luar biasa ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas. kayak mimpi, tiba2 ada bayi imut di tempat tidur kita :)

      Hapus
  2. alhamdulillah.indah banget kan mbak jadi ibu.subhanallah.nikmatnya jadi ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba anik, bener kata mba, pas lihat si Tara, rasanya hadiah2 yg pernah kudapat ga ada artinya dibanding dia

      Hapus
  3. hihihih pengen punya bayiiii

    BalasHapus