Piala

02.46 Windi Teguh 1 Comments

Kemarin malam, sambil memandangi pergerakanmu di perut bunda, ayahmu bertanya nak, kalau kamu besar akan kemana kami arahkan dirimu?. Hal ini sudah sering sekali kami bicarakan. Tentang mimpi-mimpi kami untukmu. Bahkan kami sudah membicarakan seperti apa dirimu saat menapaki jenjang kuliah kelak.

Zaman ini nak, banyak orangtua yang berlomba-lomba ingin anaknya berprestasi, apa saja. Orangtua yang begitu terobsesi dengan gelar dan penghargaan. Sampai-sampai bunda takut, apakah bunda kan menjadi ibu yang demikian juga saat engkau telah lahir nanti?.

Kamu tahu sayang, sekarang ini jamannya pergaulan bisa menembus ruang dan waktu, melalui media social. istilah kerennya era digital. Manusia lain dari belahan bumi manapun bisa terhubung hanya oleh sebuah jaringan bernama internet. Eksistensi seseorang pun sekarang tidak hanya dibuktikan di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Tak heran berlomba-lomba orang katanya mengaktualisasikan diri dalam berbagai hal. Tak terkecuali para orangtua khususnya seorang ibu.

Berapa banyak ibu yang bunda lihat berpacu dan berlomba mengeluarkan sejumlah uang di facebook demi sebuah piala. Ya piala nak, bukti sebuah prestasi. Banyak macamnya, mulai dari foto senyum, foto sehat sampai foto cemberut. Fenomena yang aneh.

Saat bunda kecil dulu, bunda masih ingat tak satu pun piala pernah menghiasi rumah omamu. Tidak dari bidang pendidikan maupun bidang yang lain. Padahal bundamu ini juara kelas lo sayang, tapi tidak pernah sekalipun mendapat piala. Apakah itu mengurangi kebanggaan oma dan opamu pada kami?. Ngga sayang. Kami tetaplah anak kebanggaan mereka.

Bahkan hingga detik ini tak sekalipun kami persembahkan sebuah piala kepada oma opamu. Begitu pun ayahmu. Namun beberapa waktu yang lalu saat bunda bercengkaram dengan kakekmu, bapaknya ayahmu terpancar sejuta kebanggannya pada ayahmu. " Dia anak yang patuh dan penurut " kata kakekmu sambil menerawang. Dengar nak, bukan piala yang membuat seorang ayah bangga pada putranya.

Akhirnya bunda jawab pertanyaan ayahmu, kemana kakimu melangkah kesitulah kami akan mengarahkanmu, mendukungmu dengan sepenuh jiwa raga kami. Kamu tak perlu menjadi putri bunda yang mahir berlenggak lenggok di atas catwalk. Kamu pun tak perlu menjadi gadis kecil bunda dengan senyum maut yang mampu meluluhkan hati juri. Cukuplah menjadi anak yang menyejukkan hati kami dengan perilakumu, yang menenangkan mata saat kami memandangmu dan menentramkan hati saat kau jauh dari jangkauan kami.

Namun sebelum itu semua terjadi, bunda cuma minta jaga dirimu di dalam sana ya sayang. Sehat-sehat selalu dan bantu bunda untuk membawamu bertemu dengan orang-orang yang sangat menyayangimu.

You Might Also Like

1 komentar: